• 34Âșc, Sunny

Dua Warga OKU Selatan Ini Pasok Senjata Api Rakitan Ke Terduga Teroris Abu Faisal

Internasional
2017-03-17 15:42:08 Dibaca (78)

Tribratanewspoldasumsel.com - Berawal dari penangkapan yang dilakukan Tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri pada 2016 lalu di Muaradua Kabupaten OKU Selatan, terhadap tersangka AS dan BR yang merupakan jaringan terduga teroris Abu Faisal, Polda Sumatera Selatan terus melakukan pengembangan.

 

Tak sia-sia, dari pengembangan yang dilakukan Polda Sumsel melalui Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) bersama Polres OKU Selatan, pada hari Rabu tanggal 15 Maret 2017 sekira pukul 20.00 wib, akhirnya berhasil mengamankan dua tersangka terduga jaringan teroris lainnya.

 

Keduanya yakni EW Alias TE, 39 thn, warga Dusun III Desa Rantau Panjang Kecamataan Buay Rawan dan RC Alias CI, 41 thn, warga Pasar Ilir Kelurahan Pasar Muaradua Kecamatan Muaradua Kabupaten OKU Selatan yang berhasil diamankan di rumahnya masing-masing.

 

Direktur Ditreskrimum Polda Sumatera Selatan, Kombes Pol Prasetijo didampingi Kasubdit III/Jatanras, AKBP Hans Rahmatullah Irawan, menjelaskan, kedua tersangka ditangkap terkait bom bunuh diri yang terjadi di Polres Surakarta beberapa waktu lalu.

 

Adapun peran kedua tersangka yakni memasok senjata api rakitan jenis revolver kepada terduga teroris Abu Faisal yang kini masih diburu Densus 88.

 

Kedua tersangka yang kita tangkap ini merupakan pengembangan dari ditangkapnya tersangka AS dan BR oleh Densus 88 pada tahun 2016 lalu di Muaradua.

 

Dari keterangan Asep dan Bram inilah diketahui jika kedua tersangka yang baru kita tangkap ini terlibat sehingga kita melakukan penangkapan, jelasnya saat gelar tersangka di Polda Sumatera Selatan, pada hari Kamis tanggal 16 Maret 2017.

 

Tersangka TE dan CI, dikatakan Prasetijo, bertugas membelikan empat senjata api rakitan di kawasan OKU Timur seharga Rp. 10 juta yang selanjutnya diberikan kepada AS dan BR yang kembali diserahkan kepada Abu Faisal lalu diserahkan kepada terduga pelaku bom bunuh diri di Polresta Surakarta, Nur Rohman.

 

Awalnya Abu Faisal ke OKU Selatan untuk membeli senjata api hingga kemudian bertemu tersangka AS dan BR. Dari pertemuan itulah, kemudian AS mengenalkan Abu Faisal kepada tersangka TE dan CI ini, terangnya.

 

Setelah bertemu dan berkenalan tersebut, dikatakan Prasetijo, kemudian Abu Faisal pun memberikan uang sebesar Rp. 10 juta kepada terduga tersangka teroris TE dan CI untuk mencari dan membelikan senjata api.

 

Keduanya ini mencari dan membeli senjata api tersebut dengan berangkat dari OKU Selatan menuju ke OKU Timur, jadi mereka berdua membelinya di sana, OKU Timur yang diketahui I wilayah tersebut banyak memproduksi senjata api rakitan, ungkapnya.

 

Dan terkait kasus tersebut, masih dikatakan Prasetijo, Densus 88 Mabes Polri termasuk pihaknya hingga kini masih memburu terduga teroris Abu Faisal dan jaringannya.

 

Diduga, dalam kasus ini masih ada pelaku lain di wilayah OKU Timur yang berperan sebagai penyedia senjata api rakitan untuk jaringan Abu Faisal.

 

Peran Abu Faisal sebagai komandan lapangan yang tugasnya merekrut warga serta mencari senjata api untuk melancarkan aksi teror di sejumlah wilayah Indonesia, tuturnya.

 

Dari pengakuan kedua terduga tersangka teroris TE dan CI, dikatakan Prasetijo, keduanya tidak mengetahui jika senjata api yang telah dibelikannya atas permintaan Abu Faisal tersebut digunakan untuk kejahatan aksi terorisme.

 

Menurutnya, kedua tersangka tidak tahu kalau Abu Faisal merupakan jaringan pelaku terduga teroris, karena saat meminta untuk dibelikan tersebut, Abu Faisal mengaku kepada keduanya hanya untuk dibelikan saja yang akan digunakan untuk berjaga-jaga keamanan di Jawa Barat, katanya.

 

Untuk kedua tersangka terduga teroris CI dan TE, dikatakan Prasetijo, akan dipersangkakan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 jo Pasal 6, Pasal 15 jo Pasal 7, Pasal 15 jo Pasal 9 dan Pasal 13 huruf b Perpu No 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

 

Pasal tersebut sekarang ditetapkan menjadi UU No 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme atau TP menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak dan atau turut serta membantu dan turut serta melakukan kejahatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 UU Darurat No 12 tahun 1951 Jo Pasl 55 dan 56 KUHP, urainya.

 

Sementara itu, Kapolda Sumsel, Irjen Pol Agung Budi Maryoto, mengungkapkan, kedua tersangka yang ditangkap Ditreskrimum Polda Sumsel merupakan jaringan sel teroris yang meledakan bom bunuh diri di Polres Surakarta.

 

Kedunya merupakan pemasok senjata api rakitan dari Sumsel untuk jaringan teroris Abu Faisal. Dua tersangka ini telah kami tangkap dan diproses hukum. Dengan terungkapnya kasus ini, artinya di Sumsel banyak terdapat senjata api rakitan yang ingin diperoleh para jaringan teroris dan jaringan Abu Faisal mengetahui itu hingga kemudian ingin membelinya, jelasnya.

 

Untuk itu, dikatakan Agung, pihaknya pun akan terus melakukan pengawasan dan mengerahkan intelijen untuk memonitor wilayah Kamtibmas di Sumsel termasuk mengawasi dan memantau terpidana teroris yang kini masih berada di dalam sel tahanan Lapas Merah Mata serta sejumlah mantan narapidana teroris di Sumsel yang kini telah bebas.

 

Kita juga akan berkoordinasi dengan Densus 88 karena untuk melakukan pengembangan kasus tersebut adalah wewenang Densus 88, terangnya.

 

 

OPr PID Bid Humas

Bantuan Polisi

Survey

Bagaimana Pelayanan Kepolisian Daerah Sumsel ? ...
Sangat Puas
Puas
     Lihat hasil poling